Loading Downloads
3Episodes
Category: Business

Tanya jawab seputar bisnis online, terutama: Email Marketing, Facebook Ads, dan toko online.

Episode 67 - Hukum Menjual Barang KW

February 9, 2016
00:0000:00

Bismillah…

Kali ini kita kedatangan pertanyaan dari Dedy Chandra:

Assalamualaikum mas fikry. Saya mau bertanya sesuatu tentang syariat islam yang mungkin mas fikry mengerti jawabannya. Langsung saja, menurut pengetahuan mas fikry bagaimana hukum jual beli barang yang kw dalam kondisi pembeli tahu kalau yang dijual itu barang kw? apakah itu termasuk perkara haram atau dibolehkan?. Mohon pencerahannya.
Wassalamualaikum

Butuh beberapa hari untuk saya menemukan jawabannya. Setelah bertanya pada seorang ustadz, inilah jawaban beliau:

Istilah KW umumnya digunakan untuk menyebut barang tiruan yang mirip dengan aslinya. KW yang kita bahas disini adalah barang yang bentuk dan mereknya sama persis dengan aslinya. Adapun jika mereknya berbeda, tentu pembeli akan tahu barangnya pasti beda dengan aslinya. Yang sulit dibedakan jika bentuk dan miripnya sama persis. Sehingga butuh informasi dari penjual untuk mengetahui apakah barangnya asli atau KW.

Pembeli mengetahui kondisi barang adalah salah satu syarat halalnya jual beli. Artinya dari sisi ini, penjual telah berlaku jujur kepada pembeli. Dan pembeli tidak merasa tertipu dengan barangnya.

Namun ada hal lain yang dilanggar oleh orang yang menjual barang KW. Produsen atau pemegang merek telah terzhalimi dengan adanya produk KW. Orang-orang akan teralihkan, dan lebih memilih produk KW yang lebih murah. Tidak semua pembeli peduli akan kualitas. Masih banyak yang berpikiran “yang penting murah” dengan kualitas tak beda jauh. Dan memang segmen ini yang diincar oleh produsen barang KW.

Kita sebagai pedagang yang ikut menjual produk KW, turut andil dalam menyebarluaskan barang palsu ini. Kita telah mengurangi hak-hak pemegang merek dan menzhalimi pihak produsen aslinya. Hasil penjualan mereka tentu berkurang dengan adanya produk-produk KW yang tampilannya mirip bahkan bisa sangat mirip dengan aslinya. Mengambil hak-hak mereka secara zhalim telah dilarang Rasulullah dalam sabdanya:

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ
“Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali atas kerelaan dirinya”
(HR. Ahmad 5/72 no.20194, al-Baihaqi dlm Al-Kubra 6/99 no.10668, ad-Daruquthni no.2531, Shahihul Jaami’ no.7662, Irwaa-ul Ghalil no.1459)

Hadits ini melarang mengambil harta muslim. Bagaimana jika pemiliknya atau pemegang merek bukan dari kalangan muslim?

Tetap dilarang!

Karena orang-orang kafir yang ada di negeri ini, baik itu WNI maupun orang asing, telah dilindungi oleh negara. Mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa. Maka tidak boleh merampas haknya dan tidak boleh mengambil hartanya. Allah berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ
“Dan jika seorang diantara ORANG-ORANG MUSYRIK itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”
(At-Taubah: 6)

Rasulullah bersabda:

أَلاَ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ingatlah! Barangsiapa yang berlaku zhalim kepada kafir Mu’ahad (terikat perjanjian damai), mengurangi haknya, membebaninya dengan sesuatu diluar kemampuannya, atau mengambil sesuatu tanpa izin mereka, aku lah yang akan menjadi hujjah (lawan) mereka pada Hari Kiamat!
(HR. Abu Daud no.3052, al-Baihaqi 9/205, ash-Shahihah no. 445)

Al-Hafizh Ibnu Hajr rahimahullah menjelaskan kata Mu’ahad pada hadits diatas mempunyai cakupan yang luas. Beliau berkata: “Dan yang dimaksud dengan Mu’ahad adalah setiap (non muslim) yang mempunyai perjanjian dengan kaum muslimin, baik dengan akad jizyah, perjanjian (damai) dari penguasa, ataupun perlindungan keamanan dari seorang muslim”
(Fathul Baari 12/259)

Maka kesimpulannya, penjual tidak boleh menjual barang KW karena melanggar hak orang lain berupa merek, meskipun penjual berkata jujur. Orang-orang yang membuat barang KW (produsen) juga melanggar hukum negara, Pasal 90 s/d Pasal 94 UU No.15 Tahun 2001.

Jika bentuknya mirip namun mereknya berbeda, insya Allah tidak mengapa menjual produknya. Karena ini hanya bentuk persaingan biasa dalam dunia usaha.

Wallahua’lam bis shawab

Semoga Allah tetap menjaga kita dijalan yang lurus… Aamiin…


Dengarkan Radio KBO langsung dari HP Anda

Agar tidak ketinggalan upate episode terbaru Radio KBO Anda bisa men-download dan mendengarkan Radio KBO langsung melalui HP Anda, caranya:


Jika Anda memiliki pertanyaan atau ingin berdiskusi, silahkan bergabung di Facebook Group: http://komunitas.kajianbisnis.online atau mengirim pertanyaan melalui http://RadioKBO.com dengan mengklik tombol berwarna hijau di sebelah kiri.

Sampai ketemu di episode selanjutnya.

Fikry Fatullah

Kirim.Email
Radio Kajian Bisnis Online
FikryFatullah.com